Di Balik Ayat-Ayat Cinta

Pesatnya kemajuan tekhnologi media yang sangat mencengangkan, jika tidak dikontrol dengan pandangan tajam dan ilmiah yang mengacu pada syariat, ia bisa memicu tumbuhnya benih bencana aqidah dan moral. Ibarat pisau bermata dua atau rumput tumbuh di kotoran kerbau. Sehingga menimbang secara cermat seluruh dampak yang ditimbulkan tekhnologi media merupakan suatu keharusan, agar tidak menimbulkan penyesatan secara kolektif. Realita menunjukkan pengaburan terhadap hakikat syariat islam dan liberalisme nilai-nilai agama melalui tayangan media nampak bisa menuai hasil sukses.

Berbagai tayangan tersebut dikemas dalam bentuk yang menarik, misalnya “serial film agama” atau “film bernuansa religi”. Rata-rata film ini diolah tangan-tangan yang kurang kredibel dalam menangkap makna nash-nash agama dan kurang cerdas

dalam berinteraksi dengan rambu-rambu syariat. Akibatnya mereka memberikan informasi secara salah tentang universalitas agama, dan menyampaikan pesan palsu atau dusta tentang islam.

 Dimabuk Cinta Film “Ayat-Ayat Cinta”.
 Pernah saat yang lalu mungkin juga saat ini masih hampir setiap gedung bioskop di seluruh tanah air
 sedang demam film ‘ Ayat-Ayat Cinta”. Para penggemar yang tergila-gila dengan novel ayat-ayat
 cinta ini, mereka dengan penuh rasa ikhlas dan sabar menunggu antrian masuk gedung bioskop, sesabar
jamaah haji yang sedang antri di pinggir tembok ka’bah untuk mendapat kesempatan mencium
Hajar Aswad.
Opini seputar film ini bervariasi, ada yang mencaci, namun banyak pula yang memuji. Seakan umat
terhipnotis oleh adegan-adegan yang ditayangkan film ini. Ibarat medan magnet, siapapun yang pernah
dekat dengan novel tersebut, pasti ia tergoda untuk menontonnya, sehingga beberapa tokoh agama dan
tokoh masyarakat level nasionalpun juga tersihir untuk ikut menonton film ini, yang diolah oleh
sutradara, bahkan sutradarapun hampir dibuat menangis saat proses pembuatan film tersebut.
Untuk memuaskan penggemar fanatik, para penggarap film ini memilih bintang-bintang berbobot,
aktor tampan dan aktris cantik yang telah dikenal sukses memerankan film-film laris di tingkat
nasional. Maklumlah karena target bisnis menonjol daripada berkiprah untuk kemuliaan islam,
sehingga mereka lebih pantas masuk ke dalam kelompok yang dikhawatirkan ‘Ali bin Abi Thalib’,
ketika beliau menuturkan fitnah yang akan terjadi pada akhir zaman, maka Umar bertanya :
“Kapan itu terjadi?,beliau menjawab : “jika pemahaman dicari untuk selain kepentingan agama,
 ilmu dipelajari bukan untuk diamalkan, dan dunia dicari bukan untuk bekal diakhirat”.
(dikeluarkan Imam Adur-Razaq dalam musannaf-nya secara mauquf, dan imam al- Mundziri dalam
at-Targhib wa at-Targhib 106).
Tak jauh dari harapan, film ini memang telah memesona banyak orang, menjadi obrolan
di mana-mana, sehingga dalam waktu kurang dari dua minggu, film ini mampu menyedot
2,5 juta pemirsa, dan bisa dipastikan jumlah penonton akan terus bertambah seiring dengan
berjalannya waktu dan bergulirnya opini.
 Tak Ada Cinta Dalam Film “Ayat-Ayat Cinta"
Tulisan ini tak bermaksud menyoroti novel Ayat-Ayat Cinta, juga tidak bermaksud menghakimi
sutradara film. Namun lebih untuk mengkritisi dampaknya bagi aqidah dan moralitas umat,
terutama ‘maaf’ : mereka yang kurang paham terhadap ajaran islam yang benar. Walaupun keduanya
memiliki akar wacana yang sama, tetapi mengandung muatan dan nuansa berbeda, karena visualisasi
cerita tidak terlepas dari adegan yang dilarang dalam islam dan distorsi dalam nilai. Apalagi beberapa
pemirsa merasa kecewa karena antara sajian novel dengan tayangan film tak sama. Bahkan adik
kandung sang sutradara menanggapi dengan sikap dingin dan tidak menonton, karena ia
menganggap produksi film adalah sekuler dan haram (lihat tabloid NOVA, edisi 
No. 1047/XX1, 17-23 Maret 2008).

Seorang muslim tidak boleh mencintai atau membenci sesuatu kacuali karena Allah, agar
mempersembahkan cinta sejatinya yang paling hakiki hanya kepada Tuhannya, tidak  
mencintai ketika harus mencintai karena Allah dan tidak membenci ketika harus membenci kecuali karena Allah. Sehingga setiap muslim tidak mencintai kecuali yang dicintai Allah dan Rasul-Nya, begitu pula sebaliknya.
Dari Mu’adz bin Annas radiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah shalallahu ‘alaihi
wa sallam bersabda : 
 ﻣﻦ ﺃﻋﻄﻰﷲ ﻮﺃﺑﻐﺾﷲ ﻮﺃﻧﻜﺢ ﷲ ﻓﻘﺪﺍﺳﺘﻜﻤﻞ ﺍﻳﻤﺎﻧﮫ
 “ Barang siapa yang memberi karena Allah dan menahan pemberian Karena Allah, mencintai
karena Allah dan membenci Karena Allah, serta menikahkan (puterinya) karena Allah, maka
sungguh ia telah menyempurnakan keimanannya”. {Shahih, diriwayatkan Imam Ahmad dalam
Musnad-nya, 3/440. Imam at-Tirmidzi dalam Sunan-nya dalam kitab Shifatul-Qiyamah,2521.
Imam al-Haitsami dalam Majmauz-Zawaid (310), 1/268-269. dan Imam al-Hakim dalam
Mustadrak-nya, 2694. dan Syaikh al-Albani menyatakan hadits ini shahih bersama syawahidnya.
Lihat Silsilah Hadits Shahihah, no. 380}
Seorang muslim hendaklah hanya mencintai hamba-hamba Allah yang taat kepadan-Nya
dan membenci serta Memusuhi karena Allah.
Untuk bisa mencintai dan membenci secara benar karena Allah, maka kita harus memiliki ilmunya,
tanpa ilmu kita tidak bisa mencinta dan membenci secara benar. Adapun hakikat ilmu adalah
mengenal Allah dan syariat-Nya secara benar, sebab Dia-lah pemelihara semesta alam yang paling
berhak disembah, dan syariat-Nya akan membimbing umat manusia ke jalan yang benar dan
penuh sentuhan rahmat.
Apabila ditakar dengan ukuran cinta dan benci karena Allah sesuai dengan penjelasan di
atas, maka tidak ada cinta dalam film “Ayat-Ayat Cinta”. Artinya dalam film itu tidak mengusung
nilai-nilai islam yang mengacu pada makna sacral cinta dan benci karena Allah, bahkan muatan film
itu kebanyakan mengundang murka Allah dan pelanggaran terhadap norma-norma islam yang
diajarkan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam. Bukankah pemain film yang melakukan adegan
mesra layaknya pasangan suami isteri tidak memiliki hubungan yang syar’i sebagai suami isteri?
Bukankah para aktri yang membintangi film tersebut mengenakan pakaian ala kadarnya? Bahkan
masuk dalam kategori tabarruj, bukankah berduaan antara leleki dan wanita yang bukan mahram
dilarang islam?bukankah pesan pluralisme dan liberalisme lebih kental ketimbang  menunjukkan
toleransi islam? Bukankah para pemirsa kehilangan waktu tanpa manfaat? Bukankah gedung
bioskop sebuah tempat yang syubhat, sementara orang bijak berkata “siapa yang mendatangi
tempat-tempat syubhat, maka jangan salahkan kalau ada orang yang berburuk sangka kepadanya”.
Siapakah yang bertanggung jawab ± 2,5 juta pemirsa yang telah teracuni pemikiran pluralisme yang
disajikan dalam film tersebut.
Adakalanya para insan penggarap film bernuansa religi melihat, bahwa realitas sosial terasa kering dan
kehidupan beragama mengalami ketegangan, sehingga untuk menumbuhkan gairah hidup sosial keagamaan
terpaksa alur cerita harus dibelokkan, dikenyalkan dan membuat improvisasi untuk menarik para pemirsa.
Lalu ia menciptakan kisah cinta dusta yang dapat mengkaburkan nilai islam di benak kaum muslimin.
Dalam kaitan ini sang sutradara pun berpendapat bahwa itu suatu keharusan , itu merupakan perkara
darurat dalam masalah seni, sedangkan keadaan darurat membolehkan sesuatu yang dilarang. Tidak jauh
berbeda dengan film tersebut, banyak aroma distorsi dan pengkaburan nilai spiritual islam, terutama
ketika menterjemahkan sikap toleransi islam, sehingga fleksibelitas ajaran islam dimaknai secara berlebihan.
 Liberalisme Budaya dan Agama dalm Film “Ayat-Ayat Cinta”
 Setelah membaca komentar beberapa pemirsa, tokoh agama dan tokoh masyarakat sekuler yang dirilis
berbagai media cetak, nampak jika film tersebut dipuji karena memuat pesan liberalisme agama,
pluralisme peradaban, pembauran budaya dan kebebasan berinteraksi. Tidak dimungkiri dalam film t
ersebut terdapat pesan-pesan moral dan keluhuran budi, akan tetapi secara implisit film tersebut
sangat berbahaya, karena ia mengusung pemahaman rusak dan kebiasaan buruk. Sehingga yang
diuntungkan adalah kekuatan kristenisasi dan gerakan Zionisme yang selalu berusaha menebarkan
dan menularkan virus kerusakan moral dan pendangkalan aqidah, Allah Ta’ala berfirman yang
artinya : “…Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan
kamu dari agamamu (kepada kekafiran) seandainya mereka sanggup. Barangsiapa yang murtad
diantara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia
amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya”.
(QS. Al-Baqarah :217)
Tanpa disadari kaum muslimin telah kehilangan aqidah paling mahal, yaitu wala’ dan bara’,
sehingga kebencian terhadap orang-orang kafir menjadi lemah, kemudian lebih akrab dengan
musuh-musuh Allah, dan memenuhi panggilan syahwat yang mengundang murka dan kemarahan
Allah, yang akhir hidupnya menemui kesengsaraan dan tempat kembali yang buruk, seperti telah
ditegaskan firman Allah Ta’ala yang artinya : “Maka datanglah sesudah mereka, pengganti
(yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka kelak mereka
akan menemui kesesatan”.  (QS. Maryam : 59).
 Sungguh pantas untuk merasa khawatir , banyaknya kaum muslimin yang telah teracuni dengan
pemikiran pluralisme budaya dan liberalisme agama, maka kondisi keagamaan umat semakin
diperparah dengan kehadiran tontonan film tersebut. Bahkan dampaknya sudah sangat terasa,
misalnya : sebagian umat islam alergi dengan sikap tegas dalam beragama dan menolak mentah-mentah
pernyataan bahwa agama yang paling benar di sisi Allah adalah islam, sebagaimana yang telah
ditegaskan dalam firman-Nya : “
 ﺇﻦ ﻠﺬ ﻳﻦﻋﻨﺪ ﺍﷲ ﺁﻹﺳﻠﻢ...(١٩)
 “Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah islam”. (QS. Ali Imran : 19)
 
 Syaikh Nawawi al-Bantani berkata : “Tidak ada agam yang diridhai selain islam, yaitu
 agama tauhid dan berlindung di bawah naungan syariat yang mulia para utusan Allah”.
 (Mirajul-Lubaid Tafsir Nawawi, Syaikh Nawawi al-Bantani, 1/91).
Lebih parah, mayoritas kaum muslimin menganggap bahwa orang-orang Yahudi dan Nashrani
 bukan musuh mereka Lagi, padahal Allah Ta’ala telah menegaskan yang artinya :  
“Orang-orang Yahudi dan Nashrani tidak akan senang kepada kamu sehingga kamu mengikuti
agama mereka. Katakanlah : “Sesunguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang sebenarnya)”.
Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu,
maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu”. (QS. Al-Baarah : 120).
               Semoga tulisan ini mampu menggugah mereka yang dimabuk film “Ayat-Ayat Cinta”,
dan mampu mengetuk hati kaum muslimin untuk kembali kepada ajaran yang benar, sehingga tidak t
erus-menerus menjadi tawanan syubhat dan syahwat.
Allahuma shalli ‘ala Muhammad wa ‘ala alihi washahbihi wasallam.

Allahu a'lam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: